Kedua Mahasiswa Asal Takabonerate Selayar Berprofesi Sebagai Fotografer Di Makassar

Jejaksulawesi.com

23 Agustus 2017

Dua pemuda asal kepulauan selayar kecamatan takabonerate Muhammad Yusuf (Uchu) dan Makkasau (Chau’), menjalani profesinya sebagai fotografer.

Keduanya masih berstatus mahasiswa, Uchu jurusan akuntansi sedang Chau’ Jurusan Seni di Unismuh Makassar.

Disamping kuliah, mereka bekerja sebagai fotografer untuk memenuhi kebutuhan keseharian di kota besar Makassar. Tidak hanya itu, keduanya memiliki keyakinan yang kuat, mampu bersaing dengan fotogtafer yang lain.

“Saya memulai pekerjaan ini dari tahun 2013 dan saya senang dengan pekerjaan ini. Disamping mampu memenuhi kebutuhan hidup kala di Makassar, pekerjaan ini juga banyak memberi pengalaman dan pelajaran. Dengan semangat yang kuat beserta rekan-rekan team saya, saya yakin bisa bersaing dengan fotografer yang lain ” Ujar Uchu.

Senada dengan itu, chau’ menambahkan bahwa fotografer bukan hanya sekedar pekerjaan, tetapi juga hoby serta memberi banyak pelajaran.

” Saya memulai karir menjadi fotografer pada 2012 lalu, saya sangat menyenangi pekerjaan ini. Saya tidak hanya sekedar mencari uang, namun juga pengalaman. Alhamdulillah, dengan pengalaman yang ada, insya Allah kami bisa bersaing dengan yang lain ” Pungkas Mahasiswa Seni itu.

Keduanya adalah mahasiswa kretif dan yang lebih menyenangkan bagi keduanya, sebab hobynya yang menjadi pekerjaan mereka saat ini dan itu menghasilkan pundi-pundi rupiah dan mereka berdua punya yang telah diberi nama S2MY Photography dan Videography ( Uchu ) dan Maeyki Photography dan Videography ( Chau’ ).

*Fikar

Menyambut HUT KEMERDEKAAN RI-72, DPD KNPI SELAYAR Gelar Lomba Pidato Kebangsaan.

 

 

Jejaksulawesi.com

Rabu, 16 Agustus 2017

Dalam rangka menyambut HUT KE 72 KEMERDEKAAN RI, DPD KNPI Kepulauan Selayar menggelar kegiatan lomba pidato kebangsaan dengan tema “Indonesia Bagi Kita”.

Kegiatan tersebut dimulai 15/08/17 bertempat di Gedung PGRI Selayar dan di ikuti siswa SMA dan SMK/MA yang ada di Selayar.

Kegiatan tersebut dibuka langsung oleh Ketua DPD KNPI Kepulauan Selayar ( Azwar Ahmad ). Dalam sambutannya Azwar menyampaikan bahwa DPD KNPI KEP.SELAYAR sengaja melakukan kegiatan lomba pidato kebangsaan , untuk menggugah rasa hormat para generasi penerus terhadap para pahlawan yang telah berjasa dalam kemerdekaan bangsa ini.

” DPD KNPI sengaja melakukan kegiatan semacam ini, untuk menggugah hati kita semua dan berterimakasih atas jasa pahlawan. Kemerdekaan tidak hanya sekedar lepas lalu kemudian membentuk suatu negara. Kemerdekaan sesungguhnya adalah seperti apa proses kita sebagai estapet bangsa ini untuk memajukan dan memberikan yang terbaik. Minimal untuk daerah yang kita cintai ini ” Tutupnya dengan iringan teput tangan hadirin.

*Sadrie Renjaya

Beredar Informasi Penggusuran Kampung Tangga Bangko Jampea Selayar Oleh Pihak TNI Selayar

 

 

 

Ket : Ilustrasi

Jejaksulawesi.com

Selayar, 13 Agustus 2017

Informasi adanya penggusuran di kampung Tangnga Bangko, Pulau Jampea, Kep. Selayar sangat mengejutkan bagi saya pribadi. Kampung yang dihuni kurang dari 200 KK itu, apa iya digusur ?.

Menurut informasi yang beredar, penggusuran dilakukan oleh aparat TNI (Kodim Kep. Selayar) dengan alasan bahwa yang membuka lahan Tangnga Bangko adalah para Tapol PKI di Pulau Jampea. Mungkin itu dijadikan dasar untuk mengambil alih lahan tersebut.

Setahu saya, di Tangnga Bangko saat ini didominasi perkebunan Jambu Mente yang diolah warga yang telah puluhan tahun tinggal di daerah itu. Yang masih simpang siur adalah apakah perkebunan warga juga akan diambil alih oleh Kodim atau tidak.

Saya pernah bincang-bincang dengan salah satu warga Tangnga Bangko di tahun 2013 silam, ternyata beberapa warga yang menanam Jambu Mente memberi setoran pada Koramil setiap tahunnya. Besarannya berapa, saya sudah lupa berapa banyak persisnya.

Saat itu saya tidak menanyakan lebih jauh, tapi pada intinya karena tempat mereka menanam Jambu Mente adalah bekas Camp para Tapol PKI karena itu mereka memberikan setoran. Info ini saya dapat dari warga tadi.

Sebenarnya pola-pola seperti ini bukan lagi rahasia kalau para Tapol PKI baik di Moncongloe atau di Pulau Buru diperlakukan secara tidak wajar. Mereka dipaksa membuka lahan-lahan baru dan biasanya untuk kepentingan pribadi para perwira militer kala itu. Anda bisa membaca Ringkasan Eksekutif Pernyataan Komnas HAM tentang Hasil Penyelidikan Pelanggaran HAM yang Berat Peristiwa 1965 – 1966, tertanggal 23 Juli 2012. Atau anda bisa membaca karangan atau pernyataan Pramoedya Ananta Toer yang bertebaran di dunia maya.

Penggusuran di Tangnga Bangko, kalau ini benar, justru memberikan jalan pada kita semua untuk menelusuri dan mengungkap kembali sejauh mana perlakuan pada Tapol PKI kala itu. Bagaimana para penduduk lokal di Pulau Jampea di bantu militer melakukan persekusi kepada orang2 yang di curigai simpatisan PKI. Ini perlu kita telusuri untuk memahami sejarah sosial politik pulau Jampea pada periode tahun 65′ dan setelahnya.

Seingat saya, beberapa cerita pernah saya dengar bahwa para petani yang memiliki cangkul Cap Buaya akan jadi sasaran karena saat itu bantuan PKI berupa cangkul Cap Buaya. Tapi lagi2 ini perlu dikonfirmasi kebenarannya dengan cara menelusuri dan membandingkan keterangan2 para saksi hidup di periode 65′ dan setelahnya.

Terlepas dari itu semua, apakah TNI punya Hak untuk mengambilalih lahan yang pernah digarap oleh para Tapol PKI?.
Berikut tulisan di dinding Facebook Abu Bakar ( Pembina Rumah Baca PARADOX dan putra asli Jampea ), pada 12/08/17. Kehadiran tulisan di dinding FBnya cukup beralasan, pasalnya beberapa informasi yang beredar bahwa salahsatu perkampungan yang ada di Pulau Jampea, Kabupaten Kepulauan Selayar akan digusur oleh pihak TNI. Mereka mengklaim bahwa tanah yang ditempati oleh orang-orang yang ada dikampung tersebut adalah bekas lahan garapan Tapol PKI saat lalu.

“ Jika hal itu benar adanya, maka kita perlu menelusuri secara dalam masalah tersebut. Kasihan mereka yang sudah puluhan tahun lamanya tinggal disana lalu kemudian digusur begitu saja tanpa alasan yang mendasar “ Ujar salahsatu mahasiswa dari tanah jampea yang belum ingin disebutkan namanya.

*Sadrie Renjaya

Kekecewaan Pendiri atas Pelantikan HPMKS Selayar

Jejaksulawesi.com – Pelantikan pengurus yang mengaku DPP-HPMKS yang rencananya akan dilantik oleh sekretaris daerah kabupaten kepulauan selayar digagalkan oleh Pengurus DPP-HMPKS yang baru saja dilantik pada jum’at 16 Juni 2017 kemarin di gedung aula II LPMP Sulawesi Selatan.

Penggagalan tersebut bukan saja dilakukan oleh pengurus yang dilantik pada jum’at kemarin, namun juga melibatkan pendiri organisasi itu. Penggagalan tersebut itu sengaja dilakukan karena pasalnya pengurus HPMKS kemarin yang dilantik oleh Asisten III Dahlul malik atas rekomendasi Pemerintah Daerah Kabupaten Kepulauan Selayar. Hal itu disampaikan oleh Sulpandi Adriawan Ketua DPP-HPMKS. Kami sangat kecewa atas adanya lagi pelantikan yang mengatasnamakan pengurus HPMKS, apalagi kami mendengar bahwa pelantikan tersebut juga akan dilakukan atas rekomendasi pemda selayar melalui sekretaris daerah. Yang kami sayangkan karena himpunan ini sengaja ingin didualismekan, pungkasnya.   Ia melanjutkan kami berharap pemerintah daerah harus membuka ruang diskusi guna untuk mengkaji legatisas Hasil Mubes VII HPMKS.

Hal senada juga disampaikan oleh Muhammad Ruslan salahsatu pendiri organisasi itu saat ditemui dihotel grand aulia Jl. Emmy Saelan pasca insiden. Kami kecewa terhadap adanya pelantikan malam ini, pasalnya pelantikan digedung aula II LPMP Sulawesi Selatan dilakukan atas rekomendasi pemerintah daerah, loh kenapa malam ini ada lagi pelantikan. Sebagai pendiri organisasi saya bertanggung jawab penuh atas kejadian ini, maka itu saya berharap pemerintah daerah harus memfasilitasi agar supaya ada titik temu dan sebelum pihak pemerintah belum membuka ruang diskusi untuk memfasilitasi kedua kubu inj, maka saya berharap jangan ada pelantikan sebab yang saya takutkan kejadian malam ini akan terulang kembali dan itu lebih parah. Pungkasnya.
Dalam perdebatan itu pihak pemerintah daerah melalui sekretaris daerah kabupaten kepulauan yang juga hadir dengan maksud untuk melantik, berhasil meredam dan siap memfasilitasi pertemuan kedua kubu tersebut. Akhirnya pelantikan tidak terjadi dan kedua kubu pun membubarkan diri.

 

Bakti Sosial GEMPITA Bersama IKA SMAN 1 TAKABONERATE

Jejaksulawesi.com – Kamis, 15 Juni 2017 Gerakan Mahasiswa Pelajar Indonesia Tanadoang (GEMPITA) bersama Ikatan Alumni SMA NEGERI I TAKABONERATE Kabupaten Kepulauan Selayar Mamfaatkan Bulan Ramadhon dengan Bakti Sosial. Baksti Sosial yang dirangkai dalam bentuk Berbagi Takjil Puasa tepatnya di sekitaran Asrama GEMPITA Selayar Jl. S. Limboto disambut ramai Masyarakat pengguna jalan.

Pengurus Gempita Bersama IKA SMANTAB membagikan takjil puasa kepada para pengguna jalan baik pengguna Mobil, Sepeda Motor, Tukan Becak sampai pejalan kaki pun ikut kebagian.

Masyarakat yang mendapatkan Takjil Puasa mengucapkan terima kasih banyak dan Rasa syukur tak terhingga atas bakti kemanusiaan yang dilaksanakan oleh GEMPITA bersama IKA-SMANTAB.

Jasiruddin selaku Ketua Gempita Selayar bahwa, melakukan sesuatu yang bernilai dan bermanfaat untuk Orang banyak tidak mesti dimulai dari hal besar tapi cukup membiasakan diri dari yang kecil itu lebih dari cukup. Saya berharap dengan terlaksananya Bakti Sosial ini bisa memberi warna positif untuk Gempita dan Ika-SMANTAB ke depannya. Gempita dan Ika-SMANTAB lebih dikenal lagi di mata Publik.

Begitupun diungkapkan Nur Wahyu Ningsi yang belum lama ini menjabat selaku Ketua Umum Ika-SMANTAB Periode 2017-2018, untuk mencari pahala maka bulan Ramadhan adalah waktu tepat untuk berbagi pada sesama. Bakti Sosial yang diramu dalam bentuk berbagi takjil, saya anggap langkah strategis untuk menggaungkan Nama Organisasi. Olehnya saya berharap untuk diri saya dan Organisasi semoga apa yang sudah dilaksanakan bisa bernilai Ibadah juga bernilai Sosial.