Kekuasaan Yang Mencair di Warung Kopi.

Kekuasaan Yang Mencair di Warung Kopi.

JejakSulawesi.com

Fenomena yang saya sajikan dalam tulisan ini tidak bermaksud untuk menyinggung siapun karena sering kita jumpai di setiap Warung kopi khususnya di kota makassar. Tulisan ini lahir dari refleksi saya selama beberapa kali berkunjung ke warung kopi di sekitar pasar segar, jalan toddopuli dan jalan hertasning Makassar.

Bertemu dengan beberapa anak muda yang selalu ngobrol ringan di Warung kopi membuat saya bertanya-tanya; apa yang mereka diskusikan dan apakah ada relasi kuasa dalam diskusi itu serta bagaimana relasi kuasa itu terbentuk. Saya pun berdiskusi sambil menggaili beberapa informasi tentang fenomena budaya ini kemudian menghubungkannya dengan teori kekuasaan Michel Foucault.

Anak muda itu berdatangan dari berbagai penjuru kota di Sulawesi Selatan tidak hanya sekedar untuk menikmati kopi tapi untuk berdiskusi dengan teman dan sahabatnya. Bahkan lebih dari itu, kelompok mahasiswa yang tergabung dalam organisasi besarpun harus datang ke Warkop untuk berdiskusi membicarakan banyak hal mulai dari politik, pendidikan, kesehatan, hukum, ekonomi dan lain sebagainya. Kata mereka membicarakan lima hal itu enaknya di Warung kopi.

Saya menggunakan pendekatan etnografi dan analisis konjungtural (bersifat menghubungkan) yang saat ini sedang populer di studi antropologi dan cutural Studies, ternyata dalam fenomena itu ada kekuasaan yg bermain di dalamnya dan sangat cair.

Mengapa saya katakan demikian, karena Selama ini kita hanya terpaku dengan kekuasaan pada struktur organisasi berupa jabatan, senioritas dan patron saat diskusi di organisasi formal. Kita bisa sangat patuh terhadap apa yang dikatakan oleh mereka yang dianggap lebih tua dengan segala intrik di dalamnya Karena mereka dianggap representatif dalam hal bicara tentang kebenaran. Kemudian mereka yang mendengar seakan tak mampu berbicara karena begitu nikmatnya diskursus yang mendisiplinkan semuanya yang keluar dalam bentuk kata. Foucault (1977: 198) mengatakan diskurus mengatur bukan hanya apa yang bisa dikatakan pada kondisi kultural dan sosial tertentu, namun juga siapa yang dapat bicara, kapan dan dimana serta dapat mengikat tubuh lain agar mengikutinya. Inilah yang disebut sebagai praktik pendisiplinan-diskursus. Tentunya kalian pernah merasakan hal demikian; Anda menjadi patuh disuru beli rokok, mata melotot dan tersanjung dengan kata yang dikeluarkan.

Selain itu, disiplin juga menuntut agar pendengar sadar diri ketika ingin bergabung untuk berdiskusi sebab disiplin yang disampaikan akan menata subjek melalui praktik pemisahan dan standardisasi. pemisahan telah terbentuk melalui sejarah yang sangat panjang dan mewujud menjadi pembelahan identitas berupa angkatan berapa Anda dalam kampus, model pakaian yang dikenakan, tingkatan kader dan bahkan sampai jenis rokok yang diisap. Sehingga ada istilah yang mapan dalam setiap ruang diskusi itu yaitu Anda Harus tertib wujud untuk bergabung di sini, Menyingkirlah.

Namun, ada fenomenanya berbeda yang saya dapatkan. Anak muda itu namanya saya singkat RS datang sebagai junior tapi berduit kemudian mentraktir senior yang ada di Warkop tersebut? Fenomena langka ini jarang kita temui karena biasanya seniorlah yang mentraktir tapi perasaan kita akan tergugah jika junior mampu mentraktir beberapa orang dan satu di antaranya adalah senior. Kita pun heran apalagi dompet kita dalam keadaan kosong. Serentak kita kaget dan kagum melihat itu kemudian dipenghujung cerita kita hanya bisa mengatakan mantap dan terima kasih dinda. Saya pun bertanya lagi, Kenapa kamu (RS) traktir temanmu dan seniormu? “Saya kan punya uang jadi sepertinya saya berkuasa”. Jawanya dengan tegas.

Sungguh ada kekuatan lain yaitu uang yang dimiliki oleh orang di bawah kita sebagai alat traktir yang mampu menciptakan perbedaan sekaligus alat kekusaan yang mampu membuat kita harus patuh walaupun enggan untuk mengatakannya. Foucault (1980:136) mengatakan kekuasan terdistribusi di semua relasi sosial dan tidak tidak dapat direduksi menjadi bentuk-bentuk dan determinasi terpusat menjadi karakter legal atau yuridis serta kekuasaan apapun wujudnya sangat bersifat produktif melahirkan subjek baru.

Sungguh kekuasaan dengan intrik traktir menjadi model baru karena berfungsi sebagai pendorong ke arah transformasi diskursus yang panjang, karena modalnya berupa uang dan lain sebagainya dapat dan sangat bermanfaat untuk mengeluarkan diskursus yang tersembunyi dari senior untuk junior. Saat senior bicara dengan segala diskursus, maka pada saat itu senior berkuasa atas junior tapi saat junior traktir senior maka saat itu juniorlah yang berkuasa walaupun tidak tampak. Jadi intinya adalah terdapat kekuasaan saling menguntungkan dan hanya bisa ditempuh dengan cara saling memahami atau relasi Intersubjektif untuk menemukan keseimbangan.

Selain itu, Kekuasaan yang terdapat pada setiap level hubungan sosial itu bukan hanya sekedar perekat yang menyatukan kehidupan sosial, atau kekuatan koersif yang menempatkan sekelompok orang dibawah orang lain, meskipun pada dasarnya memang demikian, tapi kekuasaan juga merupakan proses yang membangun dan membuka jalan bagi adanya segala bentuk tindakan, hubungan atau tatanan sosial dengan harapan tingkatan kekuasaan itu walaupun mengikat tetap ada harapan bahwa generasi palanjut yang mendengar diskurus di Warung kopi itu walaupun terikat dengan kekuasaan kelak dapat menjadi manusia yang berguna bagi umat dan bangsa.

Daftar Pustaka:
1. Foucault, M. 1973. The Archaeologi of Knowledge. New York: Pantheon.
2. Foucault, M. 1980. Power/Knowledge. New York: Pantheon

Penulis :
Muhammad Arsat
Mahasiswa Pasca Sarjana Antropologi Universitas Hasanuddin dan aktif sebagai Ketua bidang pendidikan dan kebudayaan BADKO HMI sulselbar.