Beredar Informasi Penggusuran Kampung Tangga Bangko Jampea Selayar Oleh Pihak TNI Selayar

 

 

 

Ket : Ilustrasi

Jejaksulawesi.com

Selayar, 13 Agustus 2017

Informasi adanya penggusuran di kampung Tangnga Bangko, Pulau Jampea, Kep. Selayar sangat mengejutkan bagi saya pribadi. Kampung yang dihuni kurang dari 200 KK itu, apa iya digusur ?.

Menurut informasi yang beredar, penggusuran dilakukan oleh aparat TNI (Kodim Kep. Selayar) dengan alasan bahwa yang membuka lahan Tangnga Bangko adalah para Tapol PKI di Pulau Jampea. Mungkin itu dijadikan dasar untuk mengambil alih lahan tersebut.

Setahu saya, di Tangnga Bangko saat ini didominasi perkebunan Jambu Mente yang diolah warga yang telah puluhan tahun tinggal di daerah itu. Yang masih simpang siur adalah apakah perkebunan warga juga akan diambil alih oleh Kodim atau tidak.

Saya pernah bincang-bincang dengan salah satu warga Tangnga Bangko di tahun 2013 silam, ternyata beberapa warga yang menanam Jambu Mente memberi setoran pada Koramil setiap tahunnya. Besarannya berapa, saya sudah lupa berapa banyak persisnya.

Saat itu saya tidak menanyakan lebih jauh, tapi pada intinya karena tempat mereka menanam Jambu Mente adalah bekas Camp para Tapol PKI karena itu mereka memberikan setoran. Info ini saya dapat dari warga tadi.

Sebenarnya pola-pola seperti ini bukan lagi rahasia kalau para Tapol PKI baik di Moncongloe atau di Pulau Buru diperlakukan secara tidak wajar. Mereka dipaksa membuka lahan-lahan baru dan biasanya untuk kepentingan pribadi para perwira militer kala itu. Anda bisa membaca Ringkasan Eksekutif Pernyataan Komnas HAM tentang Hasil Penyelidikan Pelanggaran HAM yang Berat Peristiwa 1965 – 1966, tertanggal 23 Juli 2012. Atau anda bisa membaca karangan atau pernyataan Pramoedya Ananta Toer yang bertebaran di dunia maya.

Penggusuran di Tangnga Bangko, kalau ini benar, justru memberikan jalan pada kita semua untuk menelusuri dan mengungkap kembali sejauh mana perlakuan pada Tapol PKI kala itu. Bagaimana para penduduk lokal di Pulau Jampea di bantu militer melakukan persekusi kepada orang2 yang di curigai simpatisan PKI. Ini perlu kita telusuri untuk memahami sejarah sosial politik pulau Jampea pada periode tahun 65′ dan setelahnya.

Seingat saya, beberapa cerita pernah saya dengar bahwa para petani yang memiliki cangkul Cap Buaya akan jadi sasaran karena saat itu bantuan PKI berupa cangkul Cap Buaya. Tapi lagi2 ini perlu dikonfirmasi kebenarannya dengan cara menelusuri dan membandingkan keterangan2 para saksi hidup di periode 65′ dan setelahnya.

Terlepas dari itu semua, apakah TNI punya Hak untuk mengambilalih lahan yang pernah digarap oleh para Tapol PKI?.
Berikut tulisan di dinding Facebook Abu Bakar ( Pembina Rumah Baca PARADOX dan putra asli Jampea ), pada 12/08/17. Kehadiran tulisan di dinding FBnya cukup beralasan, pasalnya beberapa informasi yang beredar bahwa salahsatu perkampungan yang ada di Pulau Jampea, Kabupaten Kepulauan Selayar akan digusur oleh pihak TNI. Mereka mengklaim bahwa tanah yang ditempati oleh orang-orang yang ada dikampung tersebut adalah bekas lahan garapan Tapol PKI saat lalu.

“ Jika hal itu benar adanya, maka kita perlu menelusuri secara dalam masalah tersebut. Kasihan mereka yang sudah puluhan tahun lamanya tinggal disana lalu kemudian digusur begitu saja tanpa alasan yang mendasar “ Ujar salahsatu mahasiswa dari tanah jampea yang belum ingin disebutkan namanya.

*Sadrie Renjaya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *