Gelitik Ramdhan (19)

Oleh: Hamdan Juhannis

Kalau ditanya, apa cara sederhana untuk mengukur kemajuan sebuah bangsa? Saya memilih  dari cara berlalulintas masyarakatnya. Cara menggunakan jalan raya sangat menentukan tinggi rendahnya peradaban sebuah bangsa.

Pertama, budaya berklakson. Semakin sering kita membunyikan klakson kendaraan semakin menunjukkan ketidakteraturan hidup. Klakson yang selalu dipekikkan saat terjadi kemacetan menujukkan kurangnya kesabaran. Tradisi di negara maju klakson di bunyikan saat pengendara terdesak. Prinsipnya, ketenteraman di ruang publik sekalipun tetap harus dijaga.

Kedua, prilaku saat memegang setir kendaraan. Semakin maju sebuah masyarakat, semakin kuat aturan yang bisa memastikan keamanan berkendara. Termasuk sangsi pelanggaran yang sangat ketat. Contoh, menggunakan hp saat berkendara salah satu pelanggaran berat. Namun,  kita melihat ada orang  sementara mengendarai motor, tangan kirinya memegang setir, tangan kanannya sedang bersms. What a desperation!

Ketiga, budaya mengantar jenazah. Inilah situasi yang paling menakutkan di jalan raya, saat lewat jenazah dan pengantarnya.  Mereka muncul secara tiba-tiba, memaksa pengendara minggir sambil mengacungkan kayu bebendera kain putih. Karena pemahaman bahwa jenazah harus dipercepat penguburannya, maka diacuhkan semua aturan berlalu lintas tanpa merasa berdosa sama sekali. Sebuah cara berbudaya ‘sungsang’. Tak berfikir sedikit saja, jika orang mati harus dimuliakan, apalagi mereka yang masih hidup. What a confusion!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *